Minggu, 29 Juli 2018

SOP PENGGUNAAN DAN PENYIMPANAN SENJATA API

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

PENGGUNAAN SENJATA API

 

Prosedur Penggunaan Senjata Api Perorangan

 

Izin memegang Senjata Api perorangan.

1.    Pemegang senjata api adalah anggota Polri yang bertugas operasional di lapangan secara selektif dan personel/pejabat tertentu yang telah memenuhi persyaratan administratif.

2.    Penanggung jawab penggunaan senjata api perorangan adalah personel yang diberi izin memegang senjata api.

Pembawaan Senjata api Perorangan.

1.    Membawa senjata api harus dilengkapi dengan surat ijin memegang Senjata api.

2.    Senjata api dimasukkan dalam holster dan dibawa melekat dibadan (tidak dibawa dalam tas/koper dll).

3.    Senjata api tidak dibenarkan dibawa keluar daerah/wilayah, kecuali dalam rangka pelaksanaan tugas yang didukung denga Surat Perintah Tugas.

4.    Bagi anggota Polri yang bertugas daerah dengan menggunakan pesawat udara, pembawaanya disesuaikan dengan tata cara dan ketentuan yang berlaku.

5.    Senjata api hanya boleh dibawa oleh anggota Polri yang sedang bertugas/dinas.

6.    Senjata api harus selalu di dalam penguasaan dan pengawasan pemegang (tidak boleh dipegang orang lain).

7.    Untuk Senjata api jenis Revolver hendaknya diisi 5 butir peluru dalam silinder dengan mengosongkan kamar peluru pada sebelah kiri pelatuk, terkecuali jika berada di daerah operasi.

Penggunaan Senjata Api Perorangan.

1.    Senjata api perorangan hanya digunakan pada saat pemegang senjata api sedang menjalankan tugas atau sedang menjalankan perintah dinas.

2.    Senjata api perorangan digunakan dalam rangka tindakan Kepolisian berupa penegakkan hukum, pengamanan jiwa petugas atau masyarakat untuk menciptakan dan memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.

Urut-urutan tindakan penggunaan Senjata api perorangan.

a)    Dalam hal mempertahankan diri.

1.    Jika seseorang atau sekelompok orang menggunakan kekuatannya untuk melawan petugas maka penggunaan senjata api ditentukan sebagai berikut :

a.    Peringatan I (pertama) dengan menggunakan peluit Polri berupa tiga kali tiupan peringatan.

b.    Peringatan II (kedua) dengan kata-kata yang keras dan tegas dan dapat didengar oleh orang yang bersangkutan, sebagai contoh :

“Berhenti Saya Polisi”

“Jangan Bergerak”

2.    Bila peringatan tersebut tidak diindahkan dan keadaannya sangat membahayakan petugas Polri/masyarakat maka dilakukan penembakan yang diarahkan pada bagian anggota badan yang tidak mematikan (untuk melumpuhkan serangan lawan).

b)    Dalam hal menghadapi penyerangan aktif dan membahayakan jiwa/badan.

1.    Jika seseorang atau sekelompok orang melakukan penyerangan terhadap petugas atau orang lain yang dapat membahayakan keselamatan jiwa/badan baik dengan melakukan perlawanan secara fisik atau menyrang guna memudahkan usaha melarikan diri, maka penggunaan senjata api ditentukan sebagai i berikut :

Peringatan dengan kata-kata yang keras dan tegas dan dapat didengar oleh orang yang bersangkutan sebagi contoh:

“Berhenti Saya Polisi” 

“Jangan Bergerak”

2.    Bila tidak diindahkan, maka untuk membela diri lakukan penembakan dengan mengarahkan pada bagian anggota badan yang tidak mematikan (untuk melumpuhkan serangan lawan).

Penyimpanan Senjata Api Perorangan.

1.    Penyimpanan Senjata api harus dalam keadaan kosong pelurunya, disimpan di tempat yang aman dan tidak terjangkau oleh orang lain.

2.    Pada waktu berpergian keluar kota, cuti, dirawat di rumah sakit, senjata api harus dititpkan kepada petugas bagian persenjataan atau disimpan di gudang kesatuannya.

 

 

Prosedur Penggunaan Senjata Api Satuan.

 

Izin memegang Senjata Api Satuan.

1.    Senjata api satuan diberikan kepada satuan operasional Polri sesuai dengan bidang tugasnya dan dilengkapi dengan surat izin dari Kepala Kesatuan/kepala satuan kerjanya.

2.    Penanggung jawab izin memegang senjata api satuan adalah kesatuan atau kepala satuan kerja/kepala unit/kelompok yang ditunjuk tugas-tugas operasional.

Pembawaan Senjata Api Satuan.

1.    Pembawaan senjata api satuan hanya dilakukan untuk kepentingan tugas operasional Polri, dengan selalu memperhatikan faktor keamanan dari gangguan manusia, maupun lingkungnannya.

2.    Pembawaan/pengiriman senjata api Satuan harus terpisah dengan Amunisi dan dilengkapi dengan kelengkapan administrasi.

Penggunaan Senjata Api Satuan.

1.    Senjata api satuan hanya digunakan untuk kepentingan tugas kepolisian yang didasarkan pada Surat Perntah Tugas Kepala Kesatuan.

2.    Pengguna senjata sapi satuan harus memelihara kebersihan, kelengkapan dan memelihara keamanannya.

3.    Penggunaan senjata api satuan adalah dalam rangka tugas penegakkan hukum, penanggulangan huru-hara, pengamanan jiwa petugas atau masyarakat dan dilaksanakan atas perintah Kepala Unit/Kelompok Satuan Operasional Lapangan.

a)    Dalam memudahkan usaha melarikan diri, maka penggunaan senjata api ditentukan sebagai berikut :

Kepala Unit/kelompok memberikan peringatan I (pertama) dengan kata-kata yang keras dan tegas dan dapat didengar oleh orang yang bersangkutan, sebagai contoh :

“Berhenti Kami Polisi”

“Jangan bergerak”

b)    Bila peringatan tersebut belum juga diindahkan maka Kapala Unit/Kelompok, memberikan peringatan II (kedua) berupa tembakan salvo keatas sebanyak tiga kali berturut-turut, dan selanjutnya mengarahkan tembakan kearah pelaku pada bagian anggota badan yang tidak mematikan.

c)    Bagi anggota kelompok bias melakukan penembakan bila mendapat perintah Kepala Unit/Kelompok sesaat setelah adanya tembakan peringatan dari Kepala Unit/Kelompok.

d)    Khusus bagi petugas Polri yang tergabung dalam pengendalian massa (DALMAS), setelah dialkukan peringatan II (kedua) tersebut diatas, petugas yang telah ditunjuk dapat menggunakan Gas Air Mata atas perintah Kepala Satuan Dalmas.

Penyimpanan Senjata Api Satuan.

1.    Penyimpanan senjata api satuan dan amunisi tidak boleh dalam satu ruangan yang sama.

2.    Disusun dalam peti atau rak senjata dengan kunci pengaman atau rantai pengaman.

3.    Gudang senjata api Satuan harus aman dari pengaruh gangguan manusia, maupun lingkungannya.

4.    Setelah selesai menjalankan tugas, senjata api satuan harus dikembalikan ke tempat yang telah ditentukan atau gudang satuan disertai tanda terima untuk selanjutnya pemeliharaan oleh petugas tertentu atau petugas gudang.

 

 Penulis : Brigadir Wawan Riswana ( Baur Logistik Dit Samapta Polda Jabar)

Sumber : SOP Penggunaan Senjata Api Bareskrim Polri



Tidak ada komentar:

Posting Komentar