Kamis, 12 Desember 2019

TUJUAN, FUNGSI JENIS DAN KEGIATAN PERAWATAN


Tujuan, Fungsi, Jenis dan Kegiatan Perawatan (Maintenance)
Ditulis oleh Muchlisin Riadi  Sabtu, 06 Juli 2019  
Apa itu Perawatan? 
Pemeliharaan atau perawatan (maintenance) adalah serangkaian aktivitas untuk menjaga fasilitas dan peralatan agar senantiasa dalam keadaan siap pakai untuk melaksanakan produksi secara efektif dan efisien sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan dan berdasarkan standar (fungsional dan kualitas).
Istilah pemeliharaan berasal dari bahasa Yunani yaitu terein yang artinya merawat, menjaga, dan memelihara. Pemeliharaan merupakan sistem yang terdiri dari beberapa elemen berupa fasilitas (machine), penggantian komponen atau sparepart (material), biaya pemeliharaan (money), perencanaan kegiatan pemeliharaan (method) dan eksekutor pemeliharaan (man).

Berikut definisi dan pengertian pemeliharaan atau perawatan dari beberapa sumber buku:

  • Menurut Kurniawan (2013), pemeliharaan adalah suatu kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang dalam, atau memperbaikinya sampai suatu kondisi yang bisa diterima. 
  • Menurut Sehrawat dan Narang (2001), pemeliharaan adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan secara berurutan untuk menjaga atau memperbaiki fasilitas yang ada sehingga sesuai dengan standar (fungsional dan kualitas).
  • Menurut Assauri (2008), perawatan adalah kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau penyesuaian atau penggantian yang diperlukan agar supaya terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan.
  • Menurut Harsanto (2013), pemeliharaan adalah serangkaian aktivitas untuk menjaga agar fasilitas atau peralatan senantiasa dalam keadaan siap pakai.
  • Menurut Heizer dan Render (2011), pemeliharaan adalah mencakup semua aktivitas yang berkaitan dengan menjaga semua peralatan sistem agar dapat tetap bekerja.
  • Menurut Manzini (2010), perawatan adalah fungsi yang memonitor dan memelihara fasilitas pabrik, peralatan, dan fasilitas kerja dengan merancang, mengatur, menangani, dan memeriksa pekerjaan untuk menjamin fungsi dari unit selama waktu operasi (uptime) dan meminimisasi selang waktu berhenti (downtime) yang diakibatkan oleh adanya kerusakan maupun perbaikan.
Tujuan Perawatan 
Perawatan merupakan sebuah langkah pencegahan yang bertujuan untuk mengurangi atau bahkan menghindari kerusakan dari peralatan dengan memastikan tingkat keandalan dan kesiapan serta meminimalkan biaya perawatan. Menurut Assauri (2008), tujuan perawatan atau pemeliharaan adalah sebagai berikut:
  1. Kemampuan produksi dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan rencana produksi. 
  2. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi tidak terganggu.
  3. Untuk membantu mengurangi pemakaian dan penyimpangan yang di luar batas dan menjaga modal yang diinvestasikan dalam perusahaan selama waktu yang ditentukan sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan mengenai investasi tersebut. 
  4. Untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan serendah mungkin, dengan melaksanakan kegiatan maintenance secara efektif dan efisien keseluruhannya. 
  5. Menghindari kegiatan yang dapat membahayakan keselamatan para pekerja. 
  6. Mengadakan suatu kerja sama yang erat dengan fungsi-fungsi utama lainnya dari suatu perusahaan dalam rangka untuk mencapai tujuan utama perusahaan, yaitu tingkat keuntungan atau return of investment yang sebaik mungkin dan total biaya yang rendah.

Sedangkan menurut Ansori dan Mustajib (2013), perawatan atau pemeliharaan memiliki tujuan sebagai berikut:
  1. Pemakaian fasilitas produksi lebih lama.
  2. Ketersediaan optimum dari fasilitas produksi. 
  3. Menjamin kesiapan operasional seluruh fasilitas yang diperlukan pada saat pemakaian darurat. 
  4. Menjamin keselamatan operator dan pemakaian fasilitas. 
  5. Membantu kemampuan mesin dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan fungsinya.
  6. Mendukung pengurangan pemakaian dan penyimpanan yang di luar batas dan menjaga modal yang diinvestasikan dalam perusahaan selama waktu yang ditentukan sesuai dengan kebijakan perusahaan. 
  7. Melaksanakan kegiatan maintenance secara efektif dan efisien agar tercapai tingkat biaya perawatan serendah mungkin (lowest maintenance cost). 
  8. Kerja sama yang kuat dengan fungsi-fungsi utama dalam perusahaan untuk mencapai tujuan utama perusahaan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Fungsi Perawatan 
Perawatan secara umum berfungsi untuk memperpanjang umur ekonomis dari mesin dan peralatan produksi yang ada serta mengusahakan agar mesin dan peralatan produksi tersebut selalu dalam keadaan optimal dan siap pakai untuk pelaksanaan proses produksi. Menurut Ahyari (2002), fungsi perawatan adalah sebagai berikut:
  1. Mesin dan peralatan produksi yang ada dalam perusahaan yang bersangkutan akan dapat dipergunakan dalam jangka waktu panjang.
  2. Pelaksanaan proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan berjalan dengan lancar.
  3. Dapat menghindarkan diri atau dapat menekan sekecil mungkin terdapatnya kemungkinan kerusakan-kerusakan berat dari mesin dan peralatan produksi selama proses produksi berjalan.
  4. Peralatan produksi yang digunakan dapat berjalan stabil dan baik, maka proses dan pengendalian kualitas proses harus dilaksanakan dengan baik pula.
  5. Dapat dihindarkannya kerusakan-kerusakan total dari mesin dan peralatan produksi yang digunakan.
  6. Apabila mesin dan peralatan produksi berjalan dengan baik, maka penyerapan bahan baku dapat berjalan normal.
  7. Dengan adanya kelancaran penggunaan mesin dan peralatan produksi dalam perusahaan, maka pembebanan mesin dan peralatan produksi yang ada semakin baik.

Jenis-jenis Perawatan 
Menurut Prawirosentono (2009), perawatan terdiri dari dua jenis, yaitu:
a. Planned maintenance (perawatan yang terencana) 
Planned maintenance adalah kegiatan perawatan yang dilaksanakan berdasarkan perencanaan terlebih dahulu. Pemeliharaan perencanaan ini mengacu pada rangkaian proses produksi. Planned maintenance terdiri dari:
  1. Preventive maintenance (perawatan pencegahan). Preventive maintenance adalah pemeliharaan yang dilaksanakan dalam periode waktu yang tetap atau dengan kriteria tertentu pada berbagai tahap proses produksi. Tujuannya agar produk yang dihasilkan sesuai dengan rencana, baik mutu, biaya, maupun ketepatan waktunya. 
  2. Scheduled maintenance (perawatan terjadwal). Scheduled Maintenance adalah perawatan yang bertujuan mencegah terjadinya kerusakan dan perawatannya dilakukan secara periodik dalam rentang waktu tertentu. Rentang waktu perawatan ditentukan berdasarkan pengalaman, data masa lalu atau rekomendasi dari pabrik pembuat mesin yang bersangkutan. 
  3. Predictive maintenance (perawatan prediktif). Predictive maintenance adalah strategi perawatan di mana pelaksanaanya didasarkan kondisi mesin itu sendiri. Perawatan prediktif disebut juga perawatan berdasarkan kondisi (condition based maintenance) atau juga disebut monitoring kondisi mesin (machinery condition monitoring), yang artinya sebagai penentuan kondisi mesin dengan cara memeriksa mesin secara rutin, sehingga dapat diketahui keandalan mesin serta keselamatan kerja terjamin. 
b. Unplanned maintenance (perawatan tidak terencana) 
Unplanned maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan karena adanya indikasi atau petunjuk bahwa adanya tahap kegiatan proses produksi yang tiba-tiba memberikan hasil yang tidak layak. Dalam hal ini perlu dilakukan kegiatan pemeliharaan atas mesin secara tidak berencana. Unplanned maintenance terdiri dari:
  1. Emergency maintenance (perawatan darurat). Emergency maintenance adalah kegiatan perawatan mesin yang memerlukan penanggulangan yang bersifat darurat agar tidak menimbulkan akibat yang lebih parah. 
  2. Breakdown maintenance (perawatan kerusakan). Breakdown maintenance adalah pemeliharaan yang bersifat perbaikan yang terjadi ketika peralatan mengalami kegagalan dan menuntut perbaikan darurat atau berdasarkan prioritas.
  3. Corrective maintenance (perawatan penangkal). Corrective maintenance adalah pemeliharaan yang dilaksanakan karena adanya hasil produk (setengah jadi maupun barang jadi) tidak sesuai dengan rencana, baik mutu, biaya, maupun ketepatan waktunya. Misalnya: terjadi kekeliruan dalam mutu/bentuk barang, maka perlu diamati tahap kegiatan proses produksi yang perlu diperbaiki (koreksi).

Kegiatan-kegiatan Perawatan 
Menurut Tampubolon (2004), kegiatan-kegiatan perawatan dalam suatu perusahaan adalah sebagai berikut:
a. Inspeksi (inspection) 
Kegiatan ispeksi meliputi kegiatan pengecekan atau pemeriksaan secara berkala dimana maksud kegiatan ini adalah untuk mengetahui apakah perusahaan selalu mempunyai peralatan atau fasilitas produksi yang baik untuk menjamin kelancaran proses produksi. Sehingga jika terjadinya kerusakan, maka segera diadakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan sesuai dengan laporan hasil inspeksi, adan berusaha untuk mencegah sebab-sebab timbulnya kerusakan dengan melihat sebab-sebab kerusakan yang diperoleh dari hasil inspeksi.
b. Teknik (engineering) 
Kegiatan ini meliputi kegiatan percobaan atas peralatan yang baru dibeli, dan kegiatan-kegiatan pengembangan peralatan yang perlu diganti, serta melakukan penelitian-penelitian terhadap kemungkinan pengembangan tersebut. Dalam kegiatan inilah dilihat kemampuan untuk mengadakan perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan bagi perluasan dan kemajuan dari fasilitas atau peralatan perusahaan. Oleh karena itu kegiatan teknik ini sangat diperlukan terutama apabila dalam perbaikan mesin-mesin yang rusak tidak di dapatkan atau diperoleh komponen yang sama dengan yang dibutuhkan.
c. Produksi (production) 
Kegiatan ini merupakan kegiatan pemeliharaan yang sebenarnya, yaitu memperbaiki dan mereparasi mesin-mesin dan peralatan. Secara fisik, melaksanakan pekerjaan yang disarankan atau yang diusulkan dalam kegiatan inspeksi dan teknik, melaksanakan kegiatan servis dan perminyakan (lubrication). Kegiatan produksi ini dimaksudkan untuk itu diperlukan usaha-usaha perbaikan segera jika terdapat kerusakan pada peralatan.
d. Administrasi (clerical work) 
Pekerjaan administrasi ini merupakan kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan-pencatatan mengenai biaya-biaya yang terjadi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan dan biaya-biaya yang berhubungan dengan kegiatan pemeliharaan, komponen (spareparts) yang di butuhkan, laporan kemajuan (progress report) tentang apa yang telah dikerjakan. waktu dilakukannya inspeksi dan perbaikan, serta lamanya perbaikan tersebut, komponen (spareparts) yang tersedia di bagian pemeliharaan.
e. Bangunan (housekeeping) 
Kegiatan pemeliharaan bangunan merupakan kegiatan untuk menjaga agar bangunan gedung tetap terpelihara dan terjamin kebersihannya.


Sumber : gitacahyani97.blogspot.com 
Daftar Pustaka
  • Kurniawan, Fajar. 2013. Manajemen Perawatan Industri: Teknik dan Aplikasi Implementasi Total Productive Maintenance (TPM), Preventive Maintenance dan Reability Centered Maintenance (RCM). Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • Sehrawat,M.S dan Narang,J.S. 2001. Production Management. Nai sarak: Dhanpahat RAI Co.
  • Assauri, Sofyan. 2008. Manajemen Produksi dan Operasi. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Harsanto, Budi. 2013. Dasar Ilmu Manajemen Operasi. Bandung: UNPAD.
  • Heizer, Jay dan Render, Barry. 2011. Manajemen Operasi Buku Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
  • Manzini, R. 2010. Maintenance for Industrial Systems. London: Springer.
  • Ansori,N. dan Mustajib,M.I. 2013. Sistem perawatan Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  • Ahyari, Agus. 2002. Manajemen Produksi - Pengendalian Produksi. Yogyakarta: BPFE.
  • Prawirosentono, Suyadi. 2001. Manajemen Operasi. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Tampubolon, P. Manahan. 2004. Manajemen Operasional. Jakarta: Ghalia Indonesia.


Selasa, 03 Desember 2019

BENARKAH CARTRIDGE/ PELURU LARAS LICIN KADALUWARSA BERBAHAYA ???


Benarkah kandungan kimia gas air mata yang sudah kedaluwarsa bisa berubah jadi racun? 
Menurut Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Hardoyo jawabannya kemungkinan tidak


Dijelaskan oleh Agus bahwa Gas Air Mata sebetulnya ada beberapa jenis, namun yang paling umum digunakan biasanya Zat kimia 2-Clorobenzalmalonitre atau disebut juga CS. Senyawa tersebut berbentuk serbuk putih yang akan berubah menjadi gas ketika tercampur oleh Zat Pelarut.
Nah ketika gas air mata kedaluwarsa, menurut Agus yang kemungkinan terjadi justru proses oksidasi akan membuat efektivitas senyawa CS berkurang.

"Sebenarnya kalau bahan kimia itu kedaluwarsa dari struktur kimianya mungkin mengalami proses oksidasi. Artinya efek terhadap dia bereaksi efektivitasnya menurun," kata Agus pada detikcom, Rabu (25/9/2019).

"Enggaklah, enggak sampai segitunya (-red jadi racun). Tapi kalau mau pasti ya kita perlu tahu isi sebetulnya apa," pungkasnya.

Sumber :
1. Logistik Direktorat Samapta Polda Jabar
2. detik.com
3. opini.id



SENJATA LARAS LICIN

Senjata laras licin adalah senjata pelontar gas air mata tidak memiliki ulir pada bagian larasnya.

Gas Air Mata adalah istilah yang digunakan untuk menyebut gas saraf yang digunakan untuk melumpuhkan kerumunan massa,melakukan penyerangan maupun mengelabui musuh.

Ulir[1] (bahasa Inggris: Rifling) adalah alur spiral pada bagian dalam laras senjata api. Ulir berfungsi sebagai penyeimbang proyektil dengan cara memutarnya untuk meningkatkan akurasi dan kestabilan aeorodinamis proyektil.

Senjata laras licin ini digunakan oleh personel Direktorat Samapta Polda Jabar yang memiliki kemampuan dan telah melaksanakan pelatiha.Senjata ini merupakan peralatan khusus yang digunakan pada saat melaksanakan tugas pengendalian masa dan penggunaan senjata laras licin ini harus sesuai dengan perkap No. 16 Tahun 2006 tentang pengendalian masa dan ketentuan-ketentuan lain yang telah diatur di lingkungan polri.

Berikut Adalah Senjata Laras Licin Inventaris Dinas Direktorat Samapta Polda Jabar

1. Flash Ball Super Pro (FBSP) 
 
Kaliber 44 mm

2. Flash Ball Maxi (FBM) 
    perbedaan Flash Ball Maxi dan Compact ialah FBM memiliki laras yang lebih panjang
Kaliber 44 mm

3. Anti Riot Gun (ARG)
Kaliber 38 mm

Berikut adalah Cartridge/peluru senjata laras licin :

Jenis-jenis Cartridge/peluru senjata laras licin yang biasa digunakan pada saat pengendalian masa terdiri dari beberapa jenis diantaranya :
1. CS Smoke/Tear Gas/Asap
2. CS Powder/bubuk
  *CS (chlorobenzylidenemalononitrile) merupakan Zat Kimia yang terdapat pada peluru.




Karakter dan reaksi setiap peluru hampir sama karena memiliki kandungan yang sama yaitu CS yang membedakannya adalah isi/Berat dari kandungan CS itu sendiri dan ketika dilontarkan karena ada yang tertuju pada 1 (satu)titik ada yang menyebar.

Peluru Senjata Laras Licin yang dimiliki Direktorat Samapta Polda Jabar sampai saai ini adalah Produksi dari :
  1. PT. Pindad Indonesia;
  2. Verney Carron Prancis;
  3. CONDOR non-lethal technologies Brazil.
peluru senjata ralas licin mengandung Zat aktif Orthe-Chlorobenzylidene Malononitrile (CS) dengan asap tebal berwarna putih. Jika seseorang terkena asap ini secara langsung pada bagian organ tubuh yang dilindungi selapot lendir seperti mata, hidung dan mulut akan langsung bereaksi

reaksi yang muncul biasanya :
  1. Wajah akan terasa perih dan panas seperti terbakar yang disertai dengan keluarnya air mata;
  2. Batuk-batuk hebat;
  3. Bersin-bersin;
  4. Bisa mengalami sesak nafas dan pingsan sehingga harus memperoleh pertolongan pertama;akan tetapi reaksi seperti ini jarang terjadi.


Sumber :
1. Logistik Direktorat Samapta Polda Jabar
2. opini.id
2. Detik.com

Senin, 02 Desember 2019

SOP PENGGUNAAN SENJATA API & PERTANGGUNGJAWABAN AMUNISI

Peraturan yang mengatur mengenai penggunaan senjata api oleh polisi antara lain diatur dalam Perkapolri No. 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia (“Perkapolri 8/2009”), serta di dalam Perkapolri No. 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian (“Perkapolri 1/2009”).
Berdasarkan Pasal 47 Perkapolri 8/2009 disebutkan bahwa:
(1) Penggunaan senjata api hanya boleh digunakan bila benar-benar diperuntukkan untuk melindungi nyawa manusia.
(2) Senjata api bagi petugas hanya boleh digunakan untuk:
a.    dalam hal menghadapi keadaan luar biasa;
b.    membela diri dari ancaman kematian dan/atau luka berat;
c.    membela orang lain terhadap ancaman kematian dan/atau luka berat;
d.    mencegah terjadinya kejahatan berat atau yang mengancam jiwa orang;
e.  menahan, mencegah atau menghentikan seseorang yang sedang atau akan melakukan tindakan yang sangat membahayakan jiwa; dan
f.   menangani situasi yang membahayakan jiwa, dimana langkah-langkah yang lebih lunak tidak cukup.
Penggunaan senjata api oleh polisi dilakukan apabila (Pasal 8 ayat [1] Perkapolri 1/2009):
a.    tindakan pelaku kejahatan atau tersangka dapat secara segera menimbulkan luka parah atau       kematian bagi anggota Polri atau masyarakat;
b.    anggota Polri tidak memiliki alternatif lain yang beralasan dan masuk akal untuk menghentikan     tindakan/perbuatan pelaku kejahatan atau tersangka tersebut;
c.    anggota Polri sedang mencegah larinya pelaku kejahatan atau tersangka yang merupakan ancaman segera terhadap jiwa anggota Polri atau masyarakat.
Pada prinsipnya, penggunaan senjata api merupakan upaya terakhir untuk menghentikan tindakan pelaku kejahatan atau tersangka (Pasal 8 ayat [2] Perkapolri 1/2009).
Jadi, penggunaan senjata api oleh polisi hanya digunakan saat keadaan adanya ancaman terhadap jiwa manusia. Sebelum menggunakan senjata api, polisi harus memberikan peringatan yang jelas dengan cara (Pasal 48 huruf b Perkapolri 8/2009):
1.    menyebutkan dirinya sebagai petugas atau anggota Polri yang sedang bertugas;
2.   memberi peringatan dengan ucapan secara jelas dan tegas kepada sasaran untuk berhenti, angkat tangan,
     atau meletakkan senjatanya; dan
3.    memberi waktu yang cukup agar peringatan dipatuhi
Sebelum melepaskan tembakan, polisi juga harus memberikan tembakan peringatan ke udara atau ke tanah dengan kehati-hatian tinggi dengan tujuan untuk menurunkan moril pelaku serta memberi peringatan sebelum tembakan diarahkan kepada pelaku (Pasal 15 Perkapolri 1/2009).
Pengecualiannya yaitu dalam keadaan yang sangat mendesak di mana penundaan waktu diperkirakan dapat mengakibatkan kematian atau luka berat bagi petugas atau orang lain di sekitarnya, peringatan tidak perlu dilakukan (Pasal 48 huruf c Perkapolri 8/2009).
Bagaimana pertanggungjawaban polisi terhadap penggunaan senjata api? 
Jika ada pihak yang dirugikan atau keberatan karena penggunaan senjata api, petugas polisi yang bersangkutan wajib membuat penjelasan secara terperinci tentang alasan penggunaan senjata api, tindakan yang dilakukan dan akibat tindakan yang telah dilakukan (Pasal 49 ayat [2] huruf a Perkapolri 8/2009).
Selain itu, setelah menggunakan senjata api, polisi harus membuat laporan terperinci mengenai evaluasi pemakaian senjata api. Laporan tersebut berisi antara lain (Pasal 14 ayat [2] Perkapolri 1/2009):
a.    tanggal dan tempat kejadian;
b.    uraian singkat peristiwa tindakan pelaku kejahatan atau tersangka, sehingga memerlukan tindakan kepolisian;
c.    alasan/pertimbangan penggunaan kekuatan;
d.    rincian kekuatan yang digunakan;
e.    evaluasi hasil penggunaan kekuatan;
f.     akibat dan permasalahan yang ditimbulkan oleh penggunaan kekuatan tersebut.
Laporan inilah yang akan digunakan untuk bahan pertanggungjawaban hukum penerapan penggunaan kekuatan, serta sebagai bahan pembelaan hukum dalam hal terjadi gugatan pidana/perdata terkait penggunaan kekuatan yang dilakukan oleh anggota Polri yang bersangkutan (Pasal 14 ayat [5] huruf e dan f Perkapolri 1/2009).
Pada prinsipnya, setiap individu anggota Polri wajib bertanggung jawab atas pelaksanaan penggunaan kekuatan (senjata api) dalam tindakan kepolisian yang dilakukannya (Pasal 13 ayat [1] Perkapolri 1/2009). Oleh karena pertanggungjawaban secara individu terhadap penggunaan senjata api oleh polisi, maka penggunaan senjata api yang telah merugikan pihak lain karena tidak mengikuti prosedur dapat dituntut pertanggungjawabannnya secara perdata maupun secara pidana.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Dasar hukum:
1.    Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian
2.    Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia

Rabu, 09 Oktober 2019

PENGENALAN PRODUK QELA BALLISTA CORPORATION
KEPADA INSTITUSI POLRI


PENGENALAN TAMENG DALMAS
QELA BALLISTA CORPORATION




Sumber : Qella Ballista Corporation

Rabu, 04 September 2019

SENJATA API

A. Pengertian atau Definisi Senjata Api
Senjata Api diartikan sebagai setiap alat, baik yang sudah terpasang ataupun yang belum, yang dapat dioperasikan atau yang tidak lengkap, yang dirancang atau diubah, atau yang dapat diubah dengan mudah agar mengeluarkan proyektil akibat perkembangan gas-gas yang dihasilkan dari penyalaan bahan yang mudah terbakar didalam alat tersebut, dan termasuk perlengkapan tambahan yang dirancang atau dimaksudkan untuk dipasang pada alat demikian. 

dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan Dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga (“Perkapolri No. 8/2012”), yaitu:
Senjata Api adalah suatu alat yang sebagian atau seluruhnya terbuat dari logam yang mempunyai komponen atau alat mekanik seperti laras, pemukul/pelatuk, trigger, pegas, kamar Peluru yang dapat melontarkan anak Peluru atau gas melalui laras dengan bantuan bahan peledak.”

Lebih lanjut dijabarkan dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1976 yang menyatakan : 
Senjata api adalah salah satu alat untuk melaksanakan tugas pokok angkatan bersenjata dibidang pertahanan dan keamanan, 

sedangkan bagi instansi pemerintah di luar angkatan bersenjata, senjata api merupakan alat khusus yang penggunannya diatur melalui ketentuan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1976, yang menginstruksikan agar para menteri (pimpinan lembaga pemerintah dan non pemerintah) membantu pertahanan dan keamanan agar dapat mencapai sasaran tugasnya. Dengan demikian, secara tegas telah ditetapkan jika Senjata Api hanya diperuntukan bagi angkatan bersenjata dibidang pertahanan dan keamanan dalam hal ini TNI dan Polri, sedangkan bagi instansi pemerintah di luar bidang pertahanan dan keamanan penggunaan Senjata Api diatur dalam Intruksi Presiden dimaksud, dalam arti Senjata Api tidak dapat dipergunakan atau dimanfaatkan secara bebas tanpa alas hak yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. 

Lebih jauh dijelaskan dalam ordonansi Senjata Api tahun 1939 jo UU Darurat No.12 Tahun 1951, yang juga senjata api adalah :
  1. Bagian-bagian dari senjata api
  2. Meriam-meriam dan vylamen werpers (penyembur api) termasuk bagiannya
  3. Senjata-senjata tekanan udara dan tekanan per dengan tanpa mengindahkan kalibernya
  4. Slachtpistolen (pistol penyembelih/pemotong)
  5. Sein pistolen (pistol isyarat)
  6. Senjata api imitasi seperti : 
- alarm pistolen (pistol tanda bahaya),
- start revolvers (revolver perlombaan), 
- shijndood pistolen (pistol suar), 
- schijndood revolvers (revolver suar) 
- dan benda-benda lainnya yang sejenis itu, yang dapat dipergunakan untuk mengancam atau menakuti, begitu pula bagian-bagiannya.

Dengan demikian, yang disebut dengan Senjata Api tidak hanya terbatas pada bentuk utuh Senjata Api tersebut, namun bagian-bagian daripadanya pun termasuk dalam definisi dan kriteria Senjata Api.

B. Pengaturan Senjata Api
Indonesia memiliki 2 (dua) buah Undang-undang yang walaupun sudah berusia “lanjut” namun tetap berlaku secara efektif, salah satunya yaitu Undang-undang Nomor 12/Drt Tahun 1951 tentang Senjata Api (Undang-undang senjata Api). Undang-undang ini merupakan satu-satunya Undang-undang yang masih efektif diberlakukan terhadap pelaku penyalahgunaan Senjata Api. Dalam Undang-undang tersebut, secara tegas diatur unsur-unsur dari tindak pidana penyalahgunaan Senjata Api di Indonesia, sebagaimana Pasal 1 ayat 1 Undang-undang Senjata Api yang menyatakan : “Barang siapa tanpa hak memasukkan ke Indonesia atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara selama-lamanya 20 tahun”. Sesuai ketentuan tersebut di atas, pelaku tindak pidana penyalahgunaan Senjata Api dapat dipastikan akan dihadapkan dengan ancaman sanksi/hukuman secara berjenjang sebagai berikut :
  1. Hukuman Mati ; atau
  2. Hukuman penjara seumur hidup ; atau
  3. Hukuman penjara max 20 (dua puluh) tahun.
Jika dilihat dari ancaman sanksi “minimal” dalam Pasal 1 ayat 1 tersebut di atas yaitu penjara maksimal 20 tahun, selayaknya kita tidak menganggap remeh untuk pemberlakukan Undang-undang Senjata Api ini. Kiranya apa yang telah Penulis uraikan di atas terkait dengan Senjata Api, dapat bermanfaat bagi kita semua, dan agar tidak terjadi penyalahgunaan Senjata Api dikemudian hari.

Sumber : 
http://bumn.go.id/pindad/berita/358 
http://hukumonline.com  

Selasa, 03 September 2019

SOP PENGAJUAN PINJAM PAKAI SENPI ORGANIK

PROSEDUR PENGAJUAN IJIN MEMEGANG DAN MENGGUNAKAN SENJATA API
INVENTARIS DINAS DIREKTORAT SAMAPTA POLDA JABAR
KHUSUS UNTUK ANGGOTA DIREKTORAT SAMAPTA 
PALING RENDAH BERPANGKAT BRIGADIR

Sebelum mengajukan permohonan Pinjam Pakai Senjata Api Organik Polri
Wajib mengikuti tes Psikologi penggunaan Senjata Api

Berikut Persyaratan pengajuan permohonan Tes Psikologi Senjata Api Organik Polri yang diselengkarakan oleh Bag Psi RO SDM :

1. ND/ Surat permohonan Tes Psikologi dari Ka Sub Satker;
2. Melampirkan berkas sebagai berikut :
    a. Copy Sertifikat menembak "Minimal kelas III";
    b. Surat Pernyataan istri "Bagi yang sudah menikah";
    c. Surat Sosiometri dari 5 (lima) Personel rekan kerja;
    d. Surat rekomendasi dari Atasan Langsung.

Setelah dokumen diatas terpenuhi, maka dokumen tersebut dikirimkan ke Subbag Renmin oleh staff Sub Satker/Personel Ybs untuk dilaporkan kepada Direktur Samapta untuk minta persetujuan dan seterusnya akan diajukan ke Biro SDM untuk permohonan pelaksanaan Tes Psikologi dan menentukan jadwal pelaksanaan.

Setelah dinyatakan LULUS Test Psikologi

tahap selanjutnya adalah menyiapkan Persyaratan untuk Pinjam Pakai Senjata Api Organik Polri Inventaris Dit Samapta Polda Jabar, dengan rincian sebagai berikut :

1. ND/ Surat permohonan pinjam pakai Senjata Api Organik dari Ka Sub Satker kepada Direktur Samapta
2. Melampirkan berkas sebagai berikut :
    a. Copy Sertfikat menembak "Minimal kelas III";
    b. Surat Persetujuan istri "Bagi yang sudah menikah";
    c. Surat Sosiometri dari 5 (lima) Personel rekan kerja;
    d. Surat rekomendasi dari Atasan Langsung ;
        1. Danton/Kanit;
        2. Kasubdit;
        3. Direktur.
    e. Copy sertifikat Test Psikologi "wajib dinyatakan LULUS";
    f.  Surat keterangan Sehat dari Dokter;
    g. Fakta Integritas.

Setelah dokumen tersebut diatas terpenuhi, maka dokumen terseut diatas dikirimkan ke Subbag Renmin oleh staff Sub Satker/Personel Ybs untuk diajukan kepada Direktur Samapta.

Setelah disetujui  oleh Direktur Samapta dengan bukti Disposisi Pimpinan, maka proses selanjutnya berkas tersebut diatas bersama disposisi pimpinan diserahkan kepada Seksi Logistik untuk proses Pinjam pakai Senjata Api Polri dan Penerbitan Surat Ijin Memegang dan Menggunakan Senjata Api ( SIMSA).

setelah memegang senpi, untuk penggunaanya harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan Polri.

Rabu, 17 Oktober 2018

Pedoman Pinjam Pakai Senpi Dinas

Sumber : 
https://www.scribd.com/doc/309660796/Pedoman-Pinjam-Pakai-Senpi-Dinas

SOP PENGGUNAAN SENPI BAGI ANGGOTA POLRI. (AGAR JANGAN RAGU-RAGU)*

Prosedur Penggunaan Senpi bagi Anggota Kepolisian (Agar Jangan ragu-ragu).
*PROSEDUR PENGGUNAAN SENPI BAGI ANGGOTA POLRI. (AGAR JANGAN RAGU-RAGU)*
Dasar Hukum  :
1.   Perkap No. 8 Tahun 2009 
Tentang Implementasi Prinsip dan Standar HAM dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
2.   Perkap No. 1 tahun 2009 
Tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian.
_______________________________
I.    Penggunaan senjata api diperbolehkan apabila (Pasal 47 Perkap No. 8 Tahun 2009) : 
      (1)    Penggunaan senjata api hanya boleh digunakan bila benar-benar diperuntukkan untuk 
               melindungi nyawa manusia.
     (2)     Senjata api bagi petugas hanya boleh digunakan untuk :
               a.    dalam hal menghadapi keadaan luar biasa ;
               b.    membela diri dari ancaman kematian atau luka berat ;
               c.    membela orang lain terhadap ancaman kematian dan/atau luka berat ;
               d.    mencegah terjadinya kejahatan berat atau yang mengancam jiwa orang ;
               e.    menahan, mencegah atau menghentikan seseorang yang sedang atau akan melakukan
                      tindakan yang sangat membahayakan jiwa ; dan
               f.     menangani situasi yang membahayakan jiwa, dimana langkah-langkah yang lebih
                      lunak  tidak cukup.

II.    Penggunaan senjata api dilakukan apabila 
(Pasal 8 ayat [1] Perkap No. 1 Tahun 2009) :
a.    tindakan pelaku kejahatan atau tersangka dapat secara segera menimbulkan luka parah atau
       kematian bagi anggota Polri atau masyarakat ;
b.    anggota Polri tidak memiliki alternatif lain yang beralasan dan masuk akal untuk menghentikan
       tindakan/perbuatan pelaku kejahatan atau tersangka tersebut ;
c.    anggota Polri sedang mencegah larinya pelaku kejahatan atau tersangka yang merupakan
       ancaman segera terhadap jiwa anggota Polri atau masyarakat.

III.      Sebelum menggunakan senjata api, polisi harus memberikan peringatan yang jelas dengan cara : (Pasal 48 huruf b Perkap No. 8 Tahun 2009) :
1.    menyebutkan dirinya sebagai petugas atau anggota Polri yang sedang bertugas ;
2.    memberi peringatan dengan ucapan secara jelas dan tegas kepada sasaran untuk berhenti, angkat
       tangan, atau meletakkan senjatanya; dan
3.    memberi waktu yang cukup agar peringatan dipatuhi

IV.     Sebelum melepaskan tembakan, polisi juga harus memberikan :
 # tembakan_peringatan ke udara atau ke tanah dengan kehati-hatian tinggi dengan tujuan untuk menurunkan moril pelaku serta memberi peringatan sebelum tembakan diarahkan kepada pelaku *(Pasal 15 Perkap No. 1 Tahun 2009)*.
Pengecualiannya yaitu dalam keadaan yang sangat mendesak di mana penundaan waktu diperkirakan dapat mengakibatkan kematian atau luka berat bagi petugas atau orang lain di sekitarnya, *peringatan tidak perlu dilakukan* *(Pasal 48 huruf c Perkapolri No. 8 Tahun 2009)*.

NB : Perkap ini sudah ada sejak tahun 2009, namun banyak anggota yang masih ragu tentang prosedur penggunaan senpi.
_______________________________
Kapan_peluru_karet_digunakan_?
      Peluru karet adalah proyektil yang terbuat dari karet, atau yang dilapisi karet, yang ditembakkan dari senjata api. Peluru karet digunakan sebagai senjata tidak mematikan, namun tetap dapat menembus kulit manusia. Peluru karet tetap dapat menyebabkan kematian apabila digunakan pada jarak dekat atau terkena bagian vital seperti kepala. Peluru karet digunakan pada saat menghadapi kerusuhan masa atau unjuk rasa / demontrsi yang berujung aksi anarki.
_______________________________
Protap_Kapolri_No_1_Tahun_2010_tentang_Penanggulangan_Anarki
Rangkuman isi Protap :
-   Petugas secara bertahap melakukan tindakan bertahap. Berupa himbauan, penanganan dengan tangan kosong, penggunaan senjata tumpul atau senjata kimia (gas air mata) dan terakhir adalah penggunaan senjata api.
-   Tembakan harus disertai peringatan dan tembakan peringatan, kemudian diarahkan ke sasaran yang tidak mematikan.
-  Penembakan hanya boleh menggunakan peluru karet, kecuali pada situasi yang amat sangat darurat.

*NB* : Hak warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum #dilindungi oleh konstitusi, yakni dalam Pasal 28E UUD 1945.
  Mekanisme pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum diatur dalam UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan pendapat.

Sumber :
https://fpuindonesia.jimdo.com/artikel/prosedur-penggunaan-senpi/